Menghindari Riya’ & Ujub dalam Pandangan Islam – Konsultasi Hati

0
4






Konsultasi Hati – Peguron Sapujagad


Pembuka

Berikut adalah sesi konsultasi dan tanya jawab yang sering diajukan mengenai berbagai permasalahan cinta, hubungan, dan pasangan. Diasuh oleh Kyai Pamungkas dan Aby Marnos dari Peguron Sapujagad.

Peguron Sapujagad

Pada sesi khusus ini, kita mengangkat sebuah tema batin yang sering tidak disadari namun sangat mempengaruhi kebahagiaan hidup: kebersihan niat. Di era di mana segala sesuatu dipublikasikan, wajar jika muncul pergolakan batin antara ingin menginspirasi atau sekadar mencari validasi. Mari kita urai bersama kegelisahan hati Anda.

Pertanyaan

1. Soal Posting Kebaikan di Sosmed
“Ustadz, kita kan sering bagikan konten ibadah atau sedekah di sosmed dengan niat menginspirasi. Tapi jujur, kadang ada rasa pengen dipuji atau dapet ‘like’. Niat mau syiar sama riya’ itu bedanya di mana sih? Gimana caranya ngatur hati supaya tetep aman pas sharing hal baik?”

2. Soal Rasa ‘Lebih Baik’ dari Orang Lain
“Belakangan ini saya lagi nyoba hijrah dan makin rajin ibadah. Tapi anehnya, kadang suka kepikiran merasa ‘lebih mendingan’ pas ngeliat orang lain yang belum shalat. Saya paham ini salah, tapi kok sering muncul gitu aja ya? Apa ini yang dinamakan ujub, dan gimana cara menepisnya?”

3. Soal Serba Salah Takut Riya’
“Saking takutnya amal saya hangus gara-gara riya’, saya malah jadi ragu mau berbuat baik kalau lagi di depan orang banyak—ujungnya malah gak jadi ngerjain. Mending tetep hajar berbuat baik sambil benerin niat, atau mending nahan diri dulu ya?”

Jawaban

Kegelisahan yang Anda alami justru merupakan tanda positif bahwa hati Anda masih hidup dan sensitif terhadap keburukan. Berikut adalah tanggapan untuk pergolakan hati tersebut:

Batas Syiar dan Riya’: Syiar bertujuan agar Allah diagungkan, sedangkan riya’ bertujuan agar diri sendiri diagungkan. Keinginan mendapat “like” adalah respon biologis manusia terhadap hormon dopamin, namun secara spiritual, ia menjadi “alarm” bahwa niat kita mulai bergeser. Selama Anda segera menyadarinya dan meluruskan niat kembali, itu adalah perjuangan hati, bukan riya’ yang mendarah daging.

Ujub dalam Proses Hijrah: Merasa “lebih baik” dari orang yang belum beribadah memang disebut ujub (membanggakan diri). Hal ini lumrah terjadi di fase awal hijrah, ketika ego (nafs) mencari bentuk kebanggaan baru. Beribadah dengan kesombongan justru lebih berbahaya daripada pendosa yang menangis meratapi dosanya, karena kesombongan menipu diri sendiri.

Ketakutan Akan Riya’: Menunda atau membatalkan kebaikan semata-mata karena takut dilihat manusia justru merupakan bentuk riya’ jenis lain. Mengapa? Karena keputusan Anda beramal masih dikendalikan oleh “pandangan manusia”, bukan murni karena Allah. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya’.”

Analisis

Ilustrasi Konsultasi Hati

Dari sudut pandang psikologi spiritual, manusia memiliki Need for Approval (kebutuhan untuk diakui). Sosial media didesain secara algoritmik untuk mengeksploitasi celah psikologis ini. Ketika seseorang mulai melakukan hal baik, seringkali akar psikologisnya masih haus akan validasi; hanya saja sekarang yang dicari adalah “validasi religiusitas”.

Penyakit hati seperti riya’ dan ujub muncul bukan karena kejahatan, melainkan karena kelemahan jiwa dalam mengelola ekspektasi. Hati yang belum sepenuhnya menemukan kepuasan dari Allah akan selalu mencari celah untuk memuaskan egonya dari manusia. Ini adalah proses pendewasaan spiritual yang harus dikelola dengan kesadaran penuh.

Solusi

Untuk merawat hati agar tetap jernih, Anda bisa mencoba langkah-langkah berikut:

  • Metode Sembunyi dan Tampak: Untuk setiap satu amal kebaikan yang Anda bagikan di media sosial (syiar), pastikan Anda memiliki tiga amal kebaikan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Ini akan menjadi penyeimbang ampuh untuk ego Anda.
  • Jeda Dopamin (Detoks Notifikasi): Jika Anda memposting kebaikan untuk syiar, segera tutup aplikasinya. Jangan periksa notifikasi atau komentar selama beberapa jam. Biarkan niat Anda lepas hanya untuk mencari rida Allah, bukan reaksi audiens.
  • Mantra Anti-Ujub: Setiap kali muncul perasaan “lebih baik” dari orang lain, bisikkan dalam hati: “Mungkin orang ini memiliki satu amal tersembunyi yang membuat Allah rida, sementara amalku ini dipenuhi kecacatan sombong.”
  • Prinsip Hajar Saja: Jika ragu berbuat baik karena takut riya’, paksakan diri untuk tetap melangkah. Luruskan niat di tengah-tengah perbuatan tersebut. Melawan niat buruk jauh lebih berpahala daripada tidak beramal karena takut pada was-was hati.

FAQ (Tanya Jawab Lanjutan)

Apakah sah ibadah seseorang yang awalnya murni, tapi di tengah-tengah malah muncul rasa ingin dipuji?

Ibadahnya tetap sah. Niat yang berbelok di tengah jalan disebut khawatir (lintasan pikiran). Selama Anda menyadari dan langsung meluruskannya kembali (beristighfar dalam hati saat itu juga), lintasan tersebut tidak akan menghapus amal ibadah Anda.

Bagaimana jika dipuji orang atas kebaikan yang saya lakukan tanpa sengaja, apakah itu otomatis riya’?

Tidak. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang hal ini dan beliau menjawab: “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim). Pujian tanpa rencana adalah anugerah; yang perlu diawasi hanyalah respon hati Anda setelah mendengarnya agar tidak menjadi sombong.

Apakah saya berdosa jika menulis motivasi kebaikan tapi diri sendiri masih belum sempurna mengamalkannya?

Menyampaikan kebaikan dan mengamalkannya adalah dua hal yang dianjurkan. Jika belum sempurna mengamalkan, jangan tinggalkan kewajiban untuk menyampaikan. Niatkan tulisan tersebut sebagai cambuk atau pengingat kuat untuk diri Anda sendiri terlebih dahulu, bukan murni untuk menceramahi orang lain.

Penutup

Menjaga hati bukanlah proyek sekali jadi, melainkan pertempuran abadi hingga akhir hayat. Jangan lelah menata niat, karena kelelahan Anda dalam melawan penyakit batin (seperti riya’ dan ujub) itu sendiri sudah terhitung sebagai ibadah yang sangat mulia. Teruslah berbuat baik, teruslah merendah, dan biarkan perlahan ketulusan itu mengakar dalam keseharian kita.



PENGOBATAN ALTERNATIF
"PONDOK RUQYAH"
(SOLUSI PASTI DI JALAN ILLAHI)

Kami Jasa Solusi Problem Hidup. Masalah Tuntas Tanpa Bertentangan dengan Hukum Agama dan Negara.

MACAM PROBLEM DALAM PELAYANAN KAMI:
Solusi Problem Asmara, Rumah Tangga, Back Up Karir, Back Up Usaha, Jual Beli, Aura Pemikat, Bersih Diri / Ruwat / Ruqyah / Buang Sial, dll.

KAMI TIDAK MELAYANI SEGALA HAL YANG MELANGGAR HUKUM AGAMA DAN NEGARA.
Contoh: Bank Gaib, Uang Balik, Harta Gaib, Pesugihan, Aborsi / Menggugurkan Kandungan, Perjudian / Togel / Judi Online, Mencelakakan Orang / Santet / Teluh, dll.

ALAMAT PONDOK RUQYAH:
Dusun Kasemen, No.50, RT.05, RW.03, Desa Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kodepos 61463.
🌐 https://pondok-ruqyah.com/
☎️ +6285708371817

PERINGATAN!
Hati-hati dan waspada terhadap penipuan online yang mengatasnamakan kami. Diutamakan datang langsung ke alamat kami untuk menghindari segala hal negatif. Terimakasih.
DATANG DENGAN NIAT BAIK
TIDAK UNTUK KEJAHATAN!